Kamis, 30 September 2010

Sejarah Cirebon
Karya P.S. Sulendraningrat

Terbit 1985 oleh Balai Pustaka | Binding: Paperback | ISBN: - | Halaman: 107

DI KALANGAN komunitas pemerhati dan pelestari kereta api (Indonesian Railways Preservation Society), kota Cirebon merupakan kota lintas batas yang penting. Karena Daerah Operasi (DAOP) III Cirebon bertugas menjembatani kereta yang berangkat dari Jakarta-Bandung menuju ke daerah Jawa Tengah dan Timur. Bila jalur ini terputus, niscaya jalur distribusi barang akan terganggu. Bagi komunitas ini, Cirebon juga punya arti lebih karena ia menyimpan kereta elektrik berbahan bakar diesel bersejarah yang dipakai untuk kendaraan transportasi delegasi-delegasi peserta Kongres Asia-Afrika ke-55 di Bandung. Kereta legendaris CC-200 itu terawat dengan baik di stasiun Kejaksan, tinggal satu di dunia. Aku pernah tinggal di Cirebon selama berbulan-bulan khusus untuk mendokumentasikan kereta ini.

Kota Cirebon juga menjadi salah satu kota pelabuhan terpenting di pantai utara Jawa setelah Jakarta dan Semarang. Di sini akan dijumpai pelabuhan Cirebon, pelabuhan yang memiliki peran strategis dalam hal perdagangan sejak masa Sunan Gunung Jati masih berkuasa. Kapal-kapal asing yang mengangkut barang-barang niaga dari dan ke luar negara, pernah meramaikan pelabuhan ini. Pemandangan itu pun masih kita temui hingga saat ini. Bila kita berjalan-jalan di sore hari, maka akan kita saksikan puluhan kapal-kapal besar tengah bersandar di dermaga.

Nilai strategis Cirebon inilah yang menyebabkan Cirebon menyimpan segudang cerita perebutan wilayah yang sudah diterakan sejak cikal bakalnya, di masa kerajaan Galuh-Pajajaran masih tegak berdiri. Potensi strategis ini juga dilirik oleh orang-orang Eropa yang mengunjungi pulau Jawa.

Seorang sejarawan Portugis, Joao de Barros dalam tulisannya yang berjudul Da Asia bercerita tentang hal tersebut. Sumber lainnya yang memberitakan Cirebon periode awal, adalah Medez Pinto yang pergi ke Banten untuk mengapalkan lada. Pada tahun 1596, rombongan pedagang Belanda di bawah pimpinan Cornellis de Houtman mendarat di Banten. Pada tahun yang sama orang Belanda pertama yang datang ke Cirebon melaporkan bahwa Cirebon pada waktu itu merupakan kota dagang yang relatif kuat yang sekelilingnya dibentengi oleh sungai.

Bagaimana awal munculnya kota ini? Menurut P.S. Sulendraningrat yang mengutip "Manuskrip Purwaka Caruban Nagari", di abad ke-14 ada sebuah desa nelayan kecil bernama Muara Jati. Pengurus pelabuhan adalah Ki Gedeng Alang-Alang yang ditunjuk oleh penguasa Kerajaan Galuh (Pajajaran). Karena makin lama makin besar aktivitas baharinya, Ki Gedeng Alang-Alang memindahkan tempat pemukiman ke tempat pemukiman baru di Lemahwungkuk, 5 km arah selatan mendekati kaki bukit menuju kerajaan Galuh. Sebagai kepala pemukiman baru diangkatlah Ki Gedeng Alang-Alang dengan gelar Kuwu Cerbon.

Masa demi masa berganti, tibalah saat Adipati Cirebon yang dipangku oleh Pangeran Walangsungsang mulai berpikir untuk melepaskan diri dari Kerajaan Galuh dengan tidak mengirimkan upeti. Oleh Raja Galuh dijawab dengan mengirimkan bala tentara ke Cirebon Untuk menundukkan Adipati Cirebon, namun ternyata Adipati Cirebon terlalu kuat bagi Raja Galuh sehingga ia keluar sebagai pemenang. Mereka sanggup menang karena didukung oleh kekuatan tentara Islam di bawah pengaruh Sunan Gunung Jati dan panglimanya yang hebat dari Samudra Pasai, yakni Fadilah Khan (Falatehan) yang memimpin pasukan pemukul dari Demak. Falatehan juga yang menjadi penakluk pelabuhan Sunda Kalapa (kelak menjadi cikal bakal kota Jakarta). Dengan demikian berdirilah kerajaan baru di Cirebon, yang kental keislamannya dan menjadi penakluk kerajaan Galuh (Pajajaran) yang besar itu. Makin lama aktivitas kota ini berkembang sampai kawasan Asia Tenggara.

Sebenarnya sampai di titik ini, aku masih nyaman-nyaman saja membaca buku ini. Tapi begitu membaca narasi P.S. Sulendraningrat di halaman 36-44, aku jadi ngeri sendiri. Isinya narasi tentang bagaimana kerajaan Cirebon mulai menjatuhkan kerajaan-kerajaan lain di sekitarnya, dengan motor Dewan Wali Songo. Dikisahkan bagaimana Sunan Gunung Jati merancang dan terlibat dalam peperangan untuk menaklukkan kerajaan lain semisal Galuh dan "mengubah" dasar kerajaan taklukkannya. Satu-satunya jalan bagi mereka yang tidak mau takluk adalah keluar dengan terpaksa dari wilayah yang dikuasainya dan masuk ke hutan, entah kemana. Bisa jadi memang demikian isi "Manuskrip Purwaka Caruban Nagari" yang dikutip oleh P.S. Sulendraningrat tentang bagaimana Islam disebarkan, tapi ada baiknya digunakan sumber pembanding/penguat, agar tidak timbul kesan yang salah pada pembaca.

Misalnya, kisahan tentang asal nama Cirebon. P.S. Sulendraningrat menyebutkan nama itu berasal dari "ci" berarti air dan "rebon" yang berarti udang, untuk merujuk bahwa tempat itu penghasil udang terbaik. Tapi aku lebih condong memakai sumber historiografi tradisional lain yang ditulis pada abad ke-18 dan ke-19. Naskah-naskah tersebut dapat dijadikan pegangan sementara sehingga sumber primer ditemukan.

Di antara naskah-naskah yang memuat sejarah awal Cirebon adalah Babad Cirebon, Sajarah Kasultanan Cirebon, Babad Walangsungsang, dan lain-lain. Dari sumber lain, kita akan menemukan asal mula kata “Cirebon” adalah dari kata “sarumban” yang berarti "campuran". Ini merujuk bahwa tempat tinggal mereka ditinggali oleh beragam suku bangsa yang bercampur. Penamaan "sarumban" kemudian mengalami perubahan pengucapan menjadi “Caruban”. Kata ini mengalami proses perubahan lagi menjadi “Carbon”, berubah menjadi kata “Cerbon”, dan akhirnya menjadi kata “Cirebon”. Menurut sumber ini, para wali menyebut Carbon sebagai “Pusat Jagat”, negeri yang dianggap terletak ditengah-tengah Pulau Jawa. Masyarakat setempat menyebutnya “Negeri Gede”. Kata ini kemudian berubah pengucapannya menjadi “Garage” dan berproses lagi menjadi “Grage”.

Atau paling tidak buka lagi halaman-halaman awal buku ini. Dua nama profesor Leiden yang amat terkemuka sempat disebut penulis di awal buku ini. Dua nama ini sudah aku kenal lewat guru sejarahku di SMA. Nama mereka dikenal karena perdebatan-perdebatan historiografi di antara keduanya: Prof. Dr. Kern dan Prof N.J. Krom. Nama yang pertama lebih dulu dikenal sebagai ahli sejarah Hindia Belanda, baru kemudian nama yang kedua -- yang juga dikenal sebagai "guru" dari Prof. Poerbatjaraka. Aku pikir dengan disebutkannya nama kedua sejarawan hebat ini, buku ini akan lebih komprehensif menceritakan tentang sejarah Cirebon dengan dilengkapi pandangan keduanya. Tapi memang, sampai akhir buku, tampaknya sumber utama lebih pada "Manuskrip Purwaka Caruban Nagari" saja.

Aku pikir cukup reviewnya, dan lebih baik bila sempat mampirlah ke Cirebon sesekali. Banyak yang bisa dilihat mulai dari makam Sunan Gunung Jati dan Falatehan di area Gunung Sembung atau melihat keraton-keraton yang megah.

Bila capek, nikmati wisata kuliner yang barangkali sudah Anda kenal sebelumnya seperti tahu gejrot, empal gentong, nasi jamblang, nasi lengko, terasi udang.

Bank Indonesia Cirebon

Gedung Bank Indonesia Cirebon
Kantor De Javasche Bank (DJB) Cabang Cirebon dibuka pada 31 Juli 1866 dan baru beroperasi tanggal 6 Agustus 1866 dengan nama Agentschap van De Javasche Bank te Cheribon. Pembukaan kantor cabang ini berdasarkan surat keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda No. 63 tanggal 31 Juli 1866. Merupakan kantor cabang kelima. Empat kantor cabang yang telah dibuka terlebih dahulu yaitu: Semarang, Surabaya, Padang, dan Makasar, P.J. Janssens, Notaris di Cirebon ditunjuk sebagai pimpinan Kantor Cabang Cirebon pertama. Setiap tahun, P.J. Janssens memperoleh imbalan 25 % dari laba bersih minimal f 1.200. Dan sebagai komisaris dan wakil komisaris kantor cabang tersebut diangkat J.W. Peter Pemimpin Cabang Factor der Nederlansche Handel Maatschappij (kini menjadi BEII sebelum bergabung dengan Bank Mandiri) dan P. van Waasdjik. Peletakan batu pertama pembangunan gedung Kantor Cabang Cirebon yang terletak di Kampong Tjangkol No.5, dilakukan pada tanggal 21 September 1919 oleh Jan Marianus Gerritzen (anak Direktur M.J. Gerritzen). Perencanaan arsitektur gedung kantor tersebut dilakukan oleh Biro Arsitek F.D. Cuypers & Hulswit. Gedung ini selesai dibangun dan digunakan pada tanggal 22 Maret 1921. Dari catatan sejarah gedung ini dari awal hingga sekarang yang menjadi gedung Bank Indonesia tetap pada lokasi tersebut dan merupakan satu-satunya gedung Kantor Bank Indonesia yang hanya mempunyai satu kubah, sehingga tampak lebih ramping

(dari website museum bank indonesia).
Kebumen

Lapangan Kebumen;

Prapatan Kedjaksan

Prapatan Kedjaksan

villa-kr-anom.jpg

Villa Karang Anom

Bangunan ini dulu ada di jalan Karanggetas, Cirebon. sekarang sudah diruntuhkan dan dibekas tempat berdirinya menjadi sebuah mall.

karesidenan_tangkil.jpg

Karesidenan Tangkil, sekarang Gedung Negara Bakorwil Cirebon

oranje_hospital.jpg

Oranje Hospital

Oranje Hospital atau sekarang RSUD Gunung Jati Cirebon.

stasiun-ss-cheribon.jpg

Stasiun Kejaksan.

Stasiun Prujakan

Stasiun Prujakan

Cheribon Pabean

Cheribon Pabean

Kantor Pos Cirebon

Kantor Pos

Gedung British American Tobacco (BAT)

Pabrik Rokok BAT

Pasar Pagi

Pasar Esoek

SANDIWARA CIREBON
REP
Telaga Merah
| 26 Juli 2010 | 02:04
95
7
1 dari 2 Kompasianer menilai Menarik.

Sandiwara Cirebon dikenal oleh masyarakat Jawa Barat pada tahun 1940-an, ketika Cirebon diduduki oleh kolonialis Jepang. Berdasarkan keterangan yang dihimpun para tokoh sandiwara Cirebon saat ini, disebutkan bahwa pada masa pendudukan Jepang di Indonesia, di daerah Cirebon muncul kesenian yang digemari oleh masyarakat yaitu reog Cirebonan, yang terkenal dengan nama reog sepat. Pertunjukan reog itu terdiri dari dua bagian. Pertama berupa atraksi bodoran/lawakan, dan kedua berupa drama yang mengambil cerita dari kebiasaan masyarakat daerah tersebut. Pada saat bersamaan, di daerah Jamblang Klangenan muncul pula sebuah kesenian yang lazim disebut toneel (tonil) dengan nama Cahya Widodo. Kesenian ini setiap hari selama berbulan-bulan melakukan narayuda (ngamen).

Kedua jenis kesenian tersebut kemudian mengilhami seorang pemuda dari Kampung Langgen, Desa Wangunarja, Klangenan, Cirebon, yang bernama Mursid untuk mendirikan kesenian baru di daerah Cirebon. Mursid mengumpulkan para pemuda dari lingkungan sekitar untuk bersama-sama mendirikan perkumpulan kesenian yang memadukan reog sepat dan tonil Cahya Widodo. Kesenian ini adalah drama gaya Cirebonan dengan iringan musik yang didukung oleh waditra berlaraskan prawa. Kesenian perpaduan itu dinamakan jeblosan yang, menurut mereka, berarti “pertunjukan tonil tanpa layar tutup” (jeblas-jeblos; bahasa Cirebon). Selain itu, ada pula yang menyebutnya Bungkrek (bahasa Cirebon yang artinya bujang [pemuda] yang sering angkrak-engkrek [menari]).

Oleh karena jeblosan ini banyak dipengaruhi ketoprak/tonil/stambul Cahya Widodo, maka tidak mengherankan apabila cerita yang dibawakan pada waktu itu berasal dari Jawa Tengah dan Jawa Timur. Akan tetapi adakalanya cerita diambil dari cerita rakyat Jawa Barat tentang asal-usul daerah atau dongeng-dongeng rakyat. Dalam perjalanannya, kesenian jeblosan ini sangat digandrungi oleh masyarakat. Walaupun pada waktu itu seluruh pemainnya kaum pria, namun mayoritas mereka adalah pejuang kemerdekaan. Dalam kesenian inilah tercipta media penerangan sekaligus perjuangan melawan penjajah melalui lakon-lakon yang dimainkannya.

Pada 1946 di Desa Kebarepan, Kecamatan Plumbon, Cirebon berdiri pula kesenian sejenis dengan nama langendriyo, yang diprakarsai oleh Suwandi dan Mursid, Desa Barepan. Langendriyo dan jeblosan ini hampir sama dengan tonil Cahya Widodo, meskipun ada perbedaan dalam bahasa penyampaiannya. Pada langendriyo, cerita disampaikan dalam bahasa Jawa dan pada jeblosan dipakai bahasa campuran antara bahasa Jawa Cirebonan dengan bahasa Jawa.

Pada 1949 sarana langen jeblos mulai ditingkatkan, yaitu menggunakan panggung. Nama jeblos diganti dengan langen perbeta yang berarti lasykar (bahasa sandi), Persatuan Bekas Tentara. Dan pada tahun lima-puluhan namanya diganti lagi dengan Sari Sasmita yang berfungsi sebagai media penerangan. Kejayaan Sari Sasmita mulai terlihat. Dari malam ke malam, pada setiap musim hajatan, kesenian tersebut tidak pernah istirahat memenuhi undangan masyarakat penggemarnya.

Pada 1952 di Desa Bojong Wetan, Kecamatan Klangenan, berdiri pula kesenian sejenis dengan nama sanpro (sandiwara proletar). Pendirinya adalah H. Abdullah, yang pada saat itu menjabat sebagai kepala desa setempat. Kemudian, pada 1956, berdiri pula perkumpulan sandiwara di daerah Bedulan, Desa Suranenggala, Cirebon Utara, dengan nama yang dikenal sekarang, yaitu masres (nama sejenis benang yang dipakai untuk membuat jaring ikan). Salah satu pendirinya adalah Ibu H. Sami’i yang dikenal sebagai pesinden Cirebonan. Dan, pada 1956, partai-partai politik mulai melirik kesenian sandiwara tersebut untuk media kampanye bagi kepentingan masing-masing. Maka di Desa Bojong Wetan, Kecamatan Klangenan Cirebon, para tokoh Partai Sosialisme Indonesia (PSI) mendirikan perkumpulan seni sandiwara menggantikan sanpro dengan nama Setia Budhi. Tokoh-tokoh Partai Nasional Indonesia (PNI), dengan Lembaga Kebudayaan Nasional (LKN)-nya, mendirikan perkumpulan sandiwara dengan nama Suluh Budaya. Sementara tokoh-tokoh Partai Komunis Indonesia (PKI), dengan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra)-nya, mendirikan perkumpulan sandiwara dengan nama Dharma Bhakti. Perkumpulan-perkumpulan ini hanya bertahan hingga tahun 1965 dan ketika meletus Gerakan 30 September (G-30-S/PKI) grup-grup ini bubar karena amukan massa anti-PKI. Sejak saat itu fungsi sandiwara, juga kesenian-kesenian lain, tidak lagi didampingi oleh kepentingan partai politik.

Pada tahun 1970-an sandiwara Cirebon mengalami masa kejayaannya, karena banyak sekali yang menanggap kesenian ini. Maka tidak mengherankan jika di daerah Cirebon saat itu banyak bermunculan kelompok/grup sandiwara di setiap desa dan kecamatan. Sandiwara Cirebon hingga kini masih hidup di masyarakat Cirebon dan sekitarnya. Kehidupan kesenian ini tidak terlepas dari dukungan para pendukungnya, yang masih membutuhkan seni pertunjukan tersebut sebagai pengiring dalam upacara-upacara inisiasi, katarsis dan simpatetik magis (perkawinan, khitanan, kaul, dan lain-lain).

Alat musik yang dipakai dalam sandiwara Cirebon adalah gamelan pelog dengan waditranya antara lain bonang, kemyang, saron, titil, penerus, gong besar dan kecil, kendang, dogdog dan ketipung, tutukan, kenong (jenglong), kecrek, seruling, dan gambang. Dalam perkembangannya belakangan ini, unsur-unsur musik modern ditambahkan, antara lain alat-alat musik modern, seperti kibor dan gitar listrik. Sedangkan perlengkapan lain dalam menunjang pertunjukan sandiwara Cirebon antara lain properti, layar, dan dekor.

Dalam pertunjukan sandiwara Cirebon saat ini, banyak ditampilkan cerita yang diambil dari babad Cirebon, seperti lakon Nyi Mas Gandasari, Pangeran Walangsungsang, Ki Gede Trusmi, Tandange Ki Bagus Rangin, Pusaka Golok Cabang, dan lain-lain. Sekalipun demikian, sandiwara Cirebon kadangkala menampilkan cerita dongeng atau legenda masyarakat Jawa umumnya, terutama pada pertunjukan berlangsung siang hari. Namun pada malam hari, cerita yang ditampilkan kebanyakan diambil dari babad Cirebon hingga tuntas menjelang pagi. Oleh karena sifatnya yang egaliter, sandiwara Cirebon banyak mempertunjukkan pula kemasan-kemasan musik dangdut Cirebonan, atau kadang-kadang tayuban sebagai selingan dalam suatu lakon pertunjukan. Pertunjukan sandiwara Cirebon pada malam hari biasanya dimulai pada pukul 20.00 dan selesai pada pukul 03.30 dinihari. Struktur pertunjukan sandiwara Cirebon adalah sebagai berikut: musik pembuka (tatalu); adegan gimmick (surpraise dengan trik panggung, berupa kembang api); tarian pembuka; pertunjukan lakon sandiwara; penutup, dengan musik dan epilog pimpinan sandiwara.

blogger cirebon
Blogger Cirebon adalah keyword yang saya kejar untuk menaikan trafik blog majalengka.biz, setelah saya cek di www.google.co.id tidak banyak blogger cirebon yang aktif mengejar keyword blogger cirebon tersebut. Banyak sekali sebenarnya keyword yang berhubungan dengan kata cirebon misalnya:
Keyword yang menyangkut pemerintahan kota cirebon, kabupaten cirebon, kota udang, Plered, Trusmi, Sumber Cirebon,

Keyword yang menyangkut pariwisata cirebon: objek wisata di Cirebon, Ade Irma Suryani, Pelabuhan Cirebon, Guide Cirebon, batik Trusmi, Lukisan Kaca, Keraton Kasepuhan, Makam Sunan Gunung Jati, Sunyaragi, Keraton Kacirebonan, Syeh Syarif Hidayatullah, Keraton Kanoman, Mesjid Agung Sang Cipta Rasa, Mesjid Merah Panjunan, Mesjid Agung At-Taqwa, Grage Mall, Hero, Ramayana, Cirebon Mall, Yogya Cirebon, PGC, pasar Kanoman, CSB (Cirebon Super Block), Asia Cirebon, carefour Cirebon,

Keyword yang berhubungan dengan pendidikan: IAIN Syeh Nurdjati. Unswagati Cirebon, CIC Cirebon, STIKOM Poltek Cirebon, STIMIK IKMI Cirebon, SMAN 1 Cirebon, sampai dengan SMAN 9 Cirebon, STIKes Cirebon, dan masih banyak lagi keyword yang berhubungan dengan pendidikan Cirebon. UMC Cirebon,

Keyword yang berhubungan dengan industri di cirebon: Rotan Cirebon, Rotan Plumbon, Tegalwangi, Batu Alam cirebon, batu alam Bobos, Indocement Cirebon, semen Palimanan, batu Palimanan, kapur gempol, batu bara Cirebon.

Keyword yang berhubungan dengan makanan khas Cirebon: tahu gejrot, empal gentong, nasi lengko, mie koclok, gado-gado, kerupuk miskin, kerupuk kulit cirebon,
Dan masih banyak lagi keyword tentang cirebon. So.. kejarlah keyword di atas dan jadilah blogger cirebon nomor satau di google